PDM Kabupaten Pesawaran - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Pesawaran
.: Home > Berita > MUSEUM MUHAMMADIYAH

Homepage

MUSEUM MUHAMMADIYAH

Senin, 08-11-2020
Dibaca: 25

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Museum Muhammadiyah Yogyakarta akan diluncurkan pada Juni 2020. Terletak di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, bangunan tersebut akan menjadi pusat edukasi masyarakat tentang kemuhammadiyahan yang sejak permulaan abad ke-20 mendakwahkan Islam berkemajuan.Ketua PP Muhammadiyah bidang Pustaka dan Informasi, Prof Dadang Kahmad, menjelaskan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah pencetus Islam berkemajuan yang maksudnya adalah mendakwahkan Islam dengan membuat terobosan. 

Pada zaman itu, kata dia, di saat banyak orang mengenyam pendidikan non-formal dan terbelakang, Muhammadiyah mengajak masyarakat bersekolah menggunakan seragam. Caranya dengan duduk di bangku kelas untuk membedah ilmu pengetahuan.“Sejak awal berdiri, kami berkomitmen mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga kesehatan masyarakat,” kata guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ini, di Kampus Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka Jakarta pada Kamis (30/1).

Dia menyebutkan, sejarah mencatat sejumlah kader Muhammadiyah yang strategis mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah Bung Karno (1901-1970) yang memproklamasikan negeri ini. 

Istrinya, Fatmawati, adalah wanita yang menjahitkan bendera merah putih untuk pertama kali dikibarkan sebagai simbol negara. Adalagi Kasman Singodimedjo (1904-1982), dan Djuanda (1911-1963).

“Ada beberapa lainnya tokoh Muhammadiyah yang tercatat dalam sejarah melawan penjajahan,” katanya.

Dengan usia yang lebih dari seabad, Muhammadiyah menyatukan kepingan sejarah agar selalu menginspirasi generasi penerus. Persyarikatan menginginkan untuk mencatat dan mengabadikan segala dokumen, jejak perjalanan, dan peristiwa bersejarah, yang terkait dengan organisasi masyarakat ini.

Jadi, menurut dia, muhammadiyah sebagai organisasi besar sudah lama berdiri. Usianya mencapai 108 tahun. Kontribusinya untuk bangsa ini diabadikan dalam berbagai literatur dan dokumen sejarah. Masyarakat membacanya dari tahun ke tahun sehingga memahami keberadaan Muhammadiyah sebagai ormas besar.

“Selama ini benda-benda bersejarah terkait dengan kemuhammadiyahan berada di tangan individu, terpencar,” kata Dadang.

Kini pihaknya berupaya untuk menghimpunnya dan menjadikannya objek museum, seperti dokumen pendirian cabang dan ranting. Juga amal usaha, seperti rumah sakit, sekolah, dan panti asuhan. Juga dokumen benda bersejarah seperti tongkat yang dipakai tokoh Muhammadiyah, kursi Hamka, dan kitab-kitab kecil karangan tokoh Muhammadiyah.

Dengan mengunjungi museum, kata dia, masyarakat akan melihat dan mempelajari objek-objek tersebut. Juga mengambil ibrah dari kandungan di dalamnya, juga peristiwa dan konteks sejarah benda-benda tadi.

Ijtihad mendirikan Museum Muhammadiyah diwujudkan pada 2017. Presiden Joko Widodo meletakkan batu pertama pendiriannya. Kini proses pembangunan museum sudah memasuki tahap akhir. Konstruksi bangunan sudah berdiri. Pekerja mengupayakan penyelesaian desain interior dan sentuhan akhir, seperti pengecatan.

Desain bangunan dibuat ramah difabel, perempuan, dan anak. Dengan begitu, siapa pun akan mudah menikmati konten yang ada di dalamnya.

Museum lantai satu berisikan eksibisi sejarah pendirian persyarikatan. Lantai dua berisikan tema bidang dakwah yang menjadi garapan Muhammadiyah. Lantai ketiga diramaikan dengan organisasi otonom. Terakhir, yaitu lantai empat, diisi proyeksi dan masa depan Muhammadiyah.

Teknologi tinggi juga akan digunakan untuk menambah kelengkapan museum. Contohnya adalah berbagai alat untuk memvisualisasikan dokumen, baik tertulis maupun gambar.


Tags: MUSEUM MUHAMMADIYAH
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: BIASA



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website